Belanja Online Marak Selama Pandemi, Toko Konvensional Tetap Dicari

Belanja Online Marak Selama Pandemi, Toko Konvensional Tetap Dicari

9 Mei 2021
linkdin iconsfacebook iconstwitter iconswhatsapp iconsline iconscopy icons
Link copied to clipboard

JAKARTA, 6 Januari 2021 – Pandangan yang menyatakan era industri ritel sudah berlalu tampaknya sudah menjadi anggapan umum banyak orang. Bahkan, topik pencarian frase “akhir dari belanja offline” di Google News pun memberikan puluhan juta referensi berita.  Padahal, kondisi yang sebenarnya jauh lebih kompleks dari apa yang kita lihat.

Hal ini terlihat dari survei perilaku belanja pelanggan yang dilakukan Home Credit Indonesia dalam dua pekan terakhir Agustus 2020 terhadap lebih dari 2.500 responden di Indonesia. Survei ini dilakukan untuk mendapatkan sejumlah pemahaman seperti produk apa saja yang banyak dibeli pelanggan di berbagai outlet; seberapa sering pelanggan berbelanja; hingga jenis pembayaran yang mereka gunakan. Hasilnya, di era yang sudah serba digital ini, para pelanggan masih menyukai aktivitas belanja secara konvensional atau berkunjung ke toko favorit mereka. Alih-alih sepenuhnya berbelanja online, mereka yang mengikuti survei lebih menyukai untuk bisa mendapatkan yang terbaik dari kedua pola berbelanja tersebut (konvensional dan online).

“Survei ini tidak hanya memberikan informasi mengenai volume transaksi yang dilakukan di toko tradisional dan transaksi yang dilakukan secara online. Lebih jauh lagi, survei ini memberikan informasi tentang alasan mengapa pelanggan memilih cara belanja, baik secara konvensional maupun online serta bagaimana mereka mengambil keputusan dalam cara mereka berbelanja,” kata President Director Home Credit Indonesia, Animesh Narang.

Kita tahu industri marketing saat ini menghadapi tuntutan baru untuk memahami segmentasi pelanggan. Mereka yang berkecimpung di dunia marketing bukan hanya harus mempertimbangkan perbedaan antara belanja online dan konvensional, tetapi juga kombinasi keduanya. Agar bisa memahami keduanya secara tepat, penting bagi praktisi marketing untuk memahami perilaku berbelanja pelanggan dengan baik.

“Dengan mengetahui alasan orang berbelanja, jenis barang yang dibeli, dan seberapa sering mereka melakukannya, kita dapat menargetkan dan melakukan segmentasi produk pembiayaan kita dengan lebih baik dan sesuai kebutuhan pelanggan,” kata Animesh.

Segmentasi pelanggan berdasarkan profil demografi dan atribut gaya hidup seperti usia, jenis kelamin, lokasi, dan minat bukanlah konsep yang baru bagi marketing saat ini. Bahkan, belanja online dapat memberikan lebih banyak data yang dapat diperbarui sesering mungkin. Namun, manfaat yang sama juga bisa didapatkan dengan metode pembayaran digital modern di gerai belanja konvensional.

Survei Home Credit berhasil mengungkap data dan wawasan mengenai preferensi customer dalam berbelanja baik ke gerai ritel modern, pasar tradisional, serta beragam toko online. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa metode pembayaran cash-on-delivery (COD) masih banyak digunakan di toko online, disusul oleh kartu debit, atau transfer antar bank.

Di sisi lain, hasil yang cukup berbeda juga terlihat dari penggunaan layanan keuangan seperti pembayaran tagihan atau cicilan, yang ternyata masih banyak dilakukan di minimarket modern serta digunakan secara berkala oleh sepertiga pelanggan yang disurvei.

Contoh lain mengenai kebiasaan berbelanja adalah mengenai toko konvensional di Indonesia yang sebagian besar merupakan bisnis keluarga dan etalase toko kecil yang biasanya mendominasi penjualan produk segar dan makanan pokok. Dari hasil survei terlihat bahwa 88% orang Indonesia masih memilih untuk berbelanja produk makanan sehari-hari di pasar/toko tradisional.

Meskipun demikian, hampir semua pembeli Indonesia (93%) juga berbelanja di toko-toko ritel modern, seperti minimarket dan jaringan supermarket, untuk berbelanja kebutuhan pribadi, pakaian, pembersih rumah atau produk elektronik. Hal Ini harus dimanfaatkan secara cerdas oleh para pemilik kios pasar tradisional, untuk bergerak lebih cepat dalam memanfaatkan pembayaran digital dan tetap memandang pentingnya pilihan tipe pembayaran bagi pengecer tradisional pada umumnya.

Hal ini bisa juga menjadi indikasi bahwa pemilik gerai belanja modern seperti supermarket mungkin tidak perlu fokus menawarkan produk makanan untuk menarik pelanggan baru dan tetap. Sebaliknya, mereka harus fokus ikut berpartisipasi dalam persaingan online. Survei Home Credit menunjukkan bahwa 79% orang Indonesia pernah berbelanja secara online dalam 3 bulan belakangan sebelum mengikuti survei. Hal ini menunjukan bahwa layanan e-commerce semakin penting akibat pembatasan PSBB selama pandemi dan diprediksi terus berkembang ke depannya. Belanja online banyak dipilih oleh pelanggan untuk produk fashion, perhiasan, furniture/dekorasi rumah, dan gadget elektronik.

Adapun, pembelian produk elektronik pribadi seperti ponsel baik di toko fisik dan toko online memiliki proporsi yang sama. Hal ini memberikan keuntungan pada penawaran Home Credit karena dapat membantu konsumen melakukan pembelian dengan cepat dan nyaman melalui berbagai jalur distribusi.

Proses digitalisasi telah mengubah perilaku konsumen dalam berbelanja dengan adanya pilihan yang lebih beragam, yang mempengaruhi pengambilan keputusan, tuntutan harga untuk semakin kompetitif, serta mendorong persaingan dengan pasar tradisional. Animesh mengatakan “implikasinya bagi bisnis adalah untuk mendiversifikasi pilihan metode pembayaran dan pembiayaan mereka, baik dalam platform belanja online maupun offline.”

Di Home Credit Indonesia, calon pelanggan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk mengisi formulir aplikasi dan menyerahkan KTP beserta satu dokumen pendukung lainnya yang telah dipersyaratkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selain prosedur sederhana ini, teknologi pembiayaan online memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan keputusan atas pengajuan pembiayaan mereka dalam waktu 30 menit karena Home Credit mengoptimalkan penggunaan artificial intelligence, data dan teknologi. Dalam skema pembiayaan konvensional masa lalu, keputusan disetujui atau tidak baru akan bisa dalam beberapa hari atau bahkan beberapa minggu.

Animesh mengatakan bahwa pembiayaan itu seperti instrumen lain yang dapat meningkatkan kualitas hidup bila digunakan dengan benar. Namun instrumen ini memiliki banyak hal yang harus diperhitungkan. “Anda perlu memilih perusahaan pembiayaan dengan bijak, pastikan perusahaan pembiayaan yang Anda pilih itu diatur dan diawasi oleh OJK,” kata Animesh.

Yang tidak kalah pentingnya, di mana pun pelanggan ingin berbelanja, pelanggan harus bertanggung jawab dengan pilihan mereka. Rencanakanlah pengeluaran dengan bijak, dan ketika ingin membayar dengan mencicil pastikan total pembayaran cicilan bulanan adalah sekitar 20% dari pendapatan karena perlu mempertimbangkan kebutuhan harian, tabungan, dan bahkan amal.


###


Tentang Home Credit Indonesia

Home Credit Indonesia merupakan perusahaan pembiayaan multiguna yang menyediakan pembiayaan di toko (pembiayaan non-tunai langsung di tempat) untuk Konsumen yang ingin membeli produk-produk seperti peralatan rumah tangga, peralatan elektronik, handphone, dan furnitur. Berdiri pada tahun 2013, Home Credit Indonesia saat ini telah melayani lebih dari 4,6 juta pelanggan, memiliki lebih dari 15.000 titik penjualan, dan memperkerjakan lebih dari 9.200 karyawan (data per 30 Juni 2020).  Mitra kami saat ini adalah produsen dan peritel terkemuka baik offline dan online di antaranya Samsung, VIVO, OPPO, Realme, Erafone, Informa, Electronic City, Oke Shop, Global Teleshop, Hypermart, Trans Hello, Lotte Mart, ACE Hardware, Gramedia, Tokopedia, Bukalapak, Blibli, Citilink, dan lainnya dengan memberikan pelayanan yang mudah, sederhana, dan cepat. Silakan kunjungi www.homecredit.co.id untuk berita terbaru dan informasi lebih mendalam mengenai Home Credit Indonesia. Berikan Like di Facebook Home Credit Indonesia, ikuti halaman perusahaan kami di LinkedIn Home Credit Indonesia, dan follow Instagram kami di @homecreditid

Tentang Home Credit N.V

Home Credit N.V. (“HCNV”) merupakan induk perusahaan dari bisnis Home Credit secara global, yang berkantor pusat di Belanda. Secara terpusat, HCNV mengelola strategi utama Home Credit, yang mencakup teknologi, manajemen risiko, produk dan pendanaan, sembari terus beradaptasi mengikuti kebutuhan pasar lokal. HCBV adalah spesialis di layanan pembiayaan konsumen di pasar negara berkembang (‘emerging market’). Saat ini HCBV hadir di berbagai negara di (1) Eropa Tengah dan Eropa Timur (termasuk di antaranya Republik Ceko dan Slovakia); (2) Persemakmuran Negara-negara Merdeka (termasuk di antaranya Russia dan Kazakhstan); (3) Tiongkok; serta (4) Asia Selatan dan Asia Tenggara (termasuk di antaranya India, Indonesia, Vietnam dan Filipina).

Didirikan pada tahun 1997, Home Credit menyediakan layanan pembiayaan yang aman dan bertanggung jawab (responsible financing) bagi masyarakat dengan riwayat kredit minim, atau bahkan bagi mereka yang tidak memiliki riwayat kredit sama sekali. Home Credit juga mengemban misi untuk meningkatkan inklusi keuangan di negara-negara tempat mereka beroperasi dengan menyediakan layanan pembiayaan bagi pelanggan yang membutuhkan, kapanpun dan dimanapun mereka berada, melalui jaringan distribusi omni-channel yang dimiliki. Dan pada akhirnya, memberikan pengalaman pelanggan yang positif dan aman selama mereka menggunakan layanan pembiayaan.

HCNV tercatat telah melayani lebih dari 123,7 juta pelanggan di berbagai titik distribusi, yang terdiri dari 453.539 point-of-sales (POS), kantor pembiayaan, kantor cabang, kantor pos, dan ATM. Total aset konsolidasi HCNV mencapai EUR 25,6 miliar. Semua angka yang terangkum di sini berdasarkan data hingga 30 Juni 2019, kecuali dinyatakan lain. Informasi lebih lanjut tentang HCNV dapat diakses di www.homecredit.net.

HCNV 100% dimiliki oleh Home Credit Group B.V.